Minggu, 16 Juni 2013

Mencegah Papua Lepas Dari Indonesia

Indonesia sebagai Archipelagic State yang memiliki keaneka ragaman  dilihat dari segi ras, agama, bahasa, suku bangsa dan adat istiadat,  serta kondisi faktual ini disatu sisi merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain yang tetap harus dipelihara.Namun di satu sisi kekayaan tersebut dapat menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Ancaman disintegrasi bangsa dibeberapa bagian wilayah sudah berkembang sedemikian kuat. Bahkan mendapatkan dukungan kuat sebagian masyarakat, segelintir elite politik lokal maupun elite politik nasional dengan menggunakan beberapa issue global Issue tersebut meliputi issu demokratisasi, HAM, lingkungan hidup, ekonomi dan lemahnya penegakan hukum serta sistem keamanan wilayah perbatasan.

Permasalahan konflik yang terjadi saat ini antar partai, daerah, suku, agama dan lain-lainnya ditenggarai sebagai akibat dari ketidak puasan atas kebijaksanaan pemerintah pusat, dimana segala sumber dan tatanan hukum dinegara ini berpusat. Dari segala bentuk permasalahan baik politik, agama, sosial, ekonomi maupun kemanusiaan, sebenarnya memiliki kesamaan yakni dimulai dari ketidakadilan yang diterima oleh masyarakat Indonesia pada umumnya sehingga menimbulkan ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat, terutama bila kita meninjau kembali kekeliruan pemerintah masa lalu dalam menerapkan dan mempraktekkan kebijaksanaannya. Dalam kasus Papua penyebab timbulnya disintegrasi bangsa juga terjadi karena perlakuan yang tidak adil dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah khususnya pada daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya/kekayaan alamnya berlimpah/ berlebih. 

Adapun strategi yang digunakan dalam penanggulangan disintegrasi bangsa antara lain :

a. Menanamkan nilai-nilai Pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa persaudaraan, agar tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat Indonesia.
b. Menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primodialisme sempit pada setiap kebijaksanaan dan kegiatan, agar tidak terjadi KKN.
c. Meningkatkan ketahanan rakyat dalam menghadapi usaha-usaha pemecahbelahan dari anasir luar dan kaki tangannya.
d. Penyebaran dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan dan implementasi butir-butir Pancasila, dalam rangka melestarikan dan menanamkan kesetiaan kepada ideologi bangsa.
e. Menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi.
f. Membentuk satuan sukarela yang terdiri dari unsur masyarakat, TNI dan Polri dalam memerangi separatis.
g. Melarang, dengan melengkapi dasar dan aturan hukum setiap usaha untuk menggunakan kekuatan massa.

Minggu, 14 April 2013


Manfaat ekonomi yang ditimbulkan dari Club Med terhadap Negara dengan perekonomian maju (Seperti Italia dan Amerika Serikat) :
1)  Memberikan pendapatan pajak bari pemerintah
2)  Menambah jumlah surplus di neraca perdagangan
3)  Mendorong aktivisan wirausaha di sekitar club med
4)  Menambah efek berganda dan meningkatkan geliat ekonomi di kawasan di sekitar club
Masalah ekonomi yang ditimbulkan dari Club Med terhadap Negara dengan perekonomian maju (Seperti Italia dan Amerika Serikat) :
1)  Economic Leakage dikarenakan keuntungan yang didapat akan kembali ke negara asal
2)  Health problem Menurunnya tingkat kesehatan masyarakat sekitar dikarenakan overwork
3)  Meningkatnya Harga-harga secara Dramatis (Increase in Prices or Inflation)
4)  Masalah Musiman (Seasonal Characteristics), dimana tingkat pendapatan yang ditentukan oleh low / high season
Manfaat ekonomi yang ditimbulkan dari Club Med terhadap Negara dengan perekonomian sedang berkembang :
1)   Mendatangkan banyak wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Club Med sehingga menimbulkan peningkatan devisa Negara bidang pariwisata
2)   Membuat Negara tersebut lebih terkenal dari sebelumnya karena adanya cabang Club Med di Negaranya
3)   Meningkatkan pertumbuhan pariwisata
4)   Dapat memperkenalkan budaya yang ada di Negara tersebut

Masalah ekonomi yang ditimbulkan dari Club Med terhadap Negara dengan perekonomian sedang berkembang :
1)   Ketergantungan terhadapan pendapatan pariwisata dimana apabila terjadi krisis moneter di negara wisatawan  akan menyebabkan efek domino (Economic Dependence)
2)   Perusahaan lokal akan kurang bersaing dan pada akhirnya mati karena kekurangan modal  uang dan nama dibandingkan club med
3)   Perubahan sosial budaya di tempat pariwisata contoh meningkatnya kriminalitas  
4)   Kerusakan lingkungan hidup dikarenakan pembangunan hotel 

1.            Astina
Number of Tourist (N)
(orang)
Frequency (F)
Trip (T)
(perjalanan)
1.150.000
1 kali 
1.150.000
475.000
2 kali
950.000
185.000
3 kali
555.000
Total 1.810.000

Total 2.655.000

NTP
=
N x 100%
P



NTP
=
  1.810.000  x  100%
14.500.000



NTP
=
12,48 %

GTP
=
T x 100%
P



GTP
=
  2.655.000  x  100%
14.500.000



GTP
=
18.31 %




               
TF
=
T


N



TF
=
2.655.000


1.810.000



TF
=
1,47  Kali
Amarta
Number of Tourist (N)
(orang)
Frequency (F)
Trip (T)
(perjalanan)
675.000
1 kali 
675.000
355.000
2 kali
710.000
193.000
3 kali
579.000
Total 1.223.000

Total 1.964.000

NTP
=
N x 100%
P



NTP
=
1.223.000  x  100%
9.700.000



NTP
=
12,61 %


GTP
=
T x 100%

P





GTP
=
  1.964.000  x  100%

9.700.000





GTP
=
20,25 %







TF
=
T


N



TF
=
1.964.000


1.223.000



TF
=
1,61  Kali













                               


Jika dilihat dari perhitungan diatas, dapat dikatakan penduduk negara Amarta lebih banyak Travel frequency  dalam melakukan perjalanan wisata sehingga lebih menarik untuk diadakan promosi wisata yang lebih gencara dibandingkan negara Astina.
2. Sifat – sifat dari kecenderungan perjalanan !
a)    Bila pendapatan bertambah, maka persentase yang digunakan untuk keperluan pangan akan menjadi lebih kecil.
b)    Bila pendapatan bertambah, maka persentase yang digunakan untuk keperluan sandang akan tetap sama.
c)     Bila pendapatan bertambah, maka persentase yang digunakan untuk keperluan bahan bakar, penerangan, air dan penyewaan fasilitas hidup adalah tetap sama.
d)    Bila pendapatan bertambah, maka persentase yang digunakan untuk keperluan aneka warna, seperti : rekreasi, pendidikan dan lainnya akan menjadi lebih besar.

v Kecenderungan Perjalanan yang Tinggi disebabkan oleh :
·        Pendapatan penduduk yang besar.
·        Tingkat profesionalisme masyarakat (Wiraswasta, Direktur, Karyawan tingkat tinggi, dll).
·        Penduduk kota – kota besar.
·        Kelompok usia antara 20 - 45 tahun.
·        Kelompok keluarga kecil dan keluarga-keluarga yang memiliki anak - anak usia sekolah.
·        Tingkat pendidikan penduduk yang tinggi.

v Kecenderungan Perjalanan yang rendah disebabkan oleh :
·        Pendapatan penduduk yang kecil.
·        Pekerjaan penduduk seperti petani, buruh dan pensiunan.
·        Anak-anak kecil dan orang – orang diatas 75 tahun.
·        Para penghuni desa yang penduduknya kurang dari 2.000 orang.
·        Anggota keluarga besar ( >5 orang).

3)    Kondisi Elastis:  Seseorang yang melakukan perjalanan wisata dengan dibayarkan oleh perusahaan tempat orang tersebut bekerja untuk keperluan bisnis. Pengusaha yang melakukan perjalanan bisnis yang diutus oleh perusahaannya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk keperluan lain karena biaya sudah ditanggung oleh perusahaan yang mengirimkannya.

Kondisi Elastis Murni : Kenaikan harga bahan bakar minyak. Kenaikan harga bahan bakar minyak dapat mempengaruhi semua harga produk, termasuk produk pariwisata. Karena dengan kenaikan harga bahan bakar minyak, harga pangan dan harga bahan bakar untuk transportasi juga akan meningkat.

Kondisi Tidak Elastis : Seorang wisatawan yang melakukan perjalanannya atas biaya sendiri, sehingga apabila ada kenaikan harga, maka wisatawan tersebut akan mencari alternatif lain yang sesuai dengan biaya yang dimilikinya. Misalnya saja terdapat wisatawan yang akan melakukan perjalanan dengan biaya sendiri, sehingga perjalanan wisata yang akan dilakukan sangat tergantung dengan rencana dan biaya yang sudah direncakan / telah disusun ditempat asalnya. Dan pada saat tiba ditempat tujuan, apabila terdapat perubahan harga ( Hotel, Restaurant dan lain-lain) maka wisatawan tersebut akan mencari hotel, restaurant lain yang lebih sesuai dengan biaya yang dimilikinya. Bahkan jika terjadi peningkatan harga dari produk pariwisata, maka wisatawan bias menunda bahkan mengurungkan niatnya untuk melakukan kegiatan wisata.